Mengenal Diri Kita
Siapa mengenal
dirinya, maka akan mengenal Rabbnya
(Man ‘Arafa Nafsahu
Faqad Arafa Rabbahu)
Itu diduga hadis,
tapi itu adalah pepatahnya Aristoteles, atau hadis yunani. Kenapa di sini saya
katakan hadis yunani, dikarenakan diriwayatkan oleh orang Yunani (Aristoteles),
loh kok berani sekali saya mengatakan hadis yunani, bukankah hadis itu hanya
berasal dari Rasullullah Saw?.
Kita kembalikan lagi kepada urgensi hadis, hadis menurut
para ulama‘ muhaditsin itu sama dengan Sunnah, Cuma berbeda dalam segi
pemaknaanya, Sunnah adalah model kehidupan Nabi, sedangkan Hadis adalah
periwayatan model kehidupan Nabi, terus apa hubungannya dengan hadis yunani,
saya berani mengatakan itu hadis yunani karena disandarkan periwayatannya
kepada orang yunani (Aristoteles), sedangkan hadis dari segi penyandarannya itu
ada 3, hadis marfu‘ (hadis yang disandarkan kepada Nabi), hadis mauquf (hadis
yang disandarkan kepada sahabat), hadis maqtu
(hadis yang disandarkan kepada tabi‘in), dan apabila hadis disandarkan kepada Nabi maka itu hadis
marfu‘, bukan hadis Yunani, karena hadis yunani berasal dari Yunani bukan dari
Nabi Muhammad Saw.
Meskipun itu perkataan cak Aris, tetapi benar ya benar
tidak ada masalah, agama apapun., sebagaimana kita ketahui, banyak mirip-mirip
pepatah kanjeng Nabi dengan cak Aris, seperti kata kanjeng Nabi “orang beriman
itu tidak akan terperosok di lubang yang sama”. Cak Aris mengatakan “orang
bijak itu tidak tersandung di batu yang sama” , hikmahnya sama. Bahkan mungkin
saja Aristoteles mungkin juga Nabi, hal ini pun menurut anak-anak prodi Aqidah
dan Filsafat menganggap beberapa Filsuf itu mungkin juga Nabi, sebagaimana yang
kita ketahui bahwa Cak Aris hidup sebelum Nabi, dan jumlah Nabi kan sangat
banyak, kemungkinan cak Aris juga Nabi, menerima wahyu untuk dirinya sendiri,
sebelum kehadiran Nabi Agung akhir zaman Nabiyullah Muhammad Saw, meskipun kita
juga tidak tahu kebenarannya.
Nah tetapi, orang yang kenal dirinya berarti kenal Tuhannya,
yang jadi pertanyaan, siapa di sini orang yang sudah kenal dirinya?. Tidak
mudah orang mengenali dirinya sendiri, semuanya dikira dia sudah mengenal
dirinya, padahal belum!!!. Apalagi jasadnya saja belum kelar, tahu ngak bahwa
jazadmu yang ini bukan jazadmu yang dulu, jazad yang dulu sudah habis dan sudah
ganti berulang-ulang, setiap hari itu 8018 milyar sel yang rusak akibat
beraktifitas, dan ketika malam hari kita tidur, diganti dengan sel-sel yang
baru. Dan saat usia saya 20 tahun badan saya bukan badan saya ketika saya
berumur 2 tahun.
Mangkanya kalau Allah SWT itu mau memberi seseorang umur yang panjang, maka pergantian sel setiap hari harus dicetak secara sempurna, mangkanya sering kita ketahui kalau orang sudah tua, itu seperti anak bayi lagi, giginya mulai ompong, seperti saat balita dahulu. Itulah sedikit gambaran bagaimana kita saja belum kenal jazad kita sendiri, dan ini masih dalam hal jasmani belum rohaninya. Saya yakin orang yang kenal diri, pasti kenal tuhannya, dari itu saja tidak usah lain-lain. dalam anatomi, mengenal bagaimana kerjanya leukosit saja itu sudah mengagumkan, yang bekerja sangat sporadik. Dari sini saja kita sudah bisa mengungkap kebenaran tuhan.
Lah kalau kamu sekolah saja enggak, Matematika, IPA, Biologi
nolpotol pedot del kalau kata orang jawa ilmunya deng deng serr. Ilmunya Cuma dari Syekh google, bertanya kepada
medsos dan hanya ngaji kitab fatkhul Jarene. Dari mana kamu bisa mengenal Tuhanmu.
Sedangkan “Science” sebagai kunci ilmu Tauhid, dengan
Science kita bisa lebih mudah mengenal dengan semua proses metabolisme yang
terjadi dialam ini, berikut akan saya paparkan dengan sedikit ilmu yang saya
dapat saat sekolah jurusan IPA dulu.
Jika ingin belajar tauhid dari ayat-ayat kauniyah atau nonliter, maka pelajarilah biologi,
kimia, dan fisika dengan matematika sebagai ilmu alatnya.
Yang paling awal semestinya adalah Biologi. Sebab, Biologi
memberi peluang kepada manusia untuk mengenal dirinya, fungsi-fungsi organ
tubuhnya, mengenai makhluk hidup dan sekitarnya, memahami tabiat hewan dan
tumbuhan dengan detail. Bahkan mempelajari makhluk yang bukan tumbuhan dan
bukan hewan sekaligus. Makhluk yang sangat kecil yang berada di ambang
kehidupan dan ketidakhidupan.
Kedua adalah kimia. Ilmu yang membuat kita mengerti
komposisi dan sifat zat atau “materi” dari skala “atom” hingga molekul. Juga
untuk mengetahui perubahan serta interaksi mereka untuk membentuk materi. Misalnya, kita mempelajari udara,
faktor paling vital pendukung kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup. Ilmu
kimia akan mengantarkan kita memahami apa unsur-unsur penyususn udara,
bagaimana komposisinya, sifatnya, sampai model hubungan unsur-unsur penyusun
itu hingga menjadi udara.
Dan yang terakhir adalah Fisika. Kajian fisika meliputi
gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam ruang lingkup ruang dan waktu.
Tidak hanya gejala alam yang ada di sekitar kita, tapi juga gejala alam di alam
semesta yang maha luas ini. Fisika mengantarkan manusia mengenal apa sebenarnya
matahari, bumi, galaksi dan lain lain yang dibahas dalam ruang lingkup
astrofisika
Lantas, apa hubungan mempelajari ketiga ilmu di atas dengan ilmu tauhid? Baiknya saya beri
contoh saat pada masa Nabi Musa dengan para ahli ilmu sihir fir’aun. Tentu kita
masih ingat kisah Nabi Musa berbantah-bantahan dengan fir’aun dengan para
tukang sihirnya yang terkenal sakti dan tidak ada tandingannya, ibaratnya ilmu
sihir para penyihir fir’aun itu sudah di atas level para pemain PUBG.. ditengah
perdebatan itu para penyihir fir’aun akhirnya menantang Musa untuk beradu ilmu,
singkat cerita, mereka melemparkan benda-benda mereka seketika benda-benda itu
berubah menjadi ular.
Nabi Musa bingung menghadapi kesaktian para tukang sihir fir’aun.
Dia tidak memiliki latar belakang ilmu yang berkaitan dengan sihir sama sekali.
Maka, Musaa berdoa kepada Allah agar diberikan jalan keluar. Saat itu pula.
Allah memerintahkan Muasa agar melemparkan tongkatnya ke tengah kerumunan ular
itu. Musa segera melakukannya, tiba-tiba tongakt Nabi Musa berubah menjadi ular
yang sengat besar dan memakan ular-ular para penyihir fir;aun.
Seketika para tukang sihir itu terduduk. Mereka bersujud
dan mengakui kehebatan Tuhan Musa. Sebab, tidak ada yang lebih sakti daripada
ilmu tukang sihir itu kecuali memang benar-benar kekuatan luar biasa, kekuatan
Tuhan. Maka, para tukang sihir fir’aun bersahadat kepada Allah dengan
mengabaikan hukuman mati fir’aun yang diancamkan kepada mereka.
Jadi apa hubungannya dengan mengenal diri kita dahulu,
sehingga bisa mengenal Allah. Jadi para tukang sihir fir’aun sudah belajar ilmu
tingkat tingi dan tidak mungkin ada yang lebih hebat lagi. Sehingga, mereka
bisa membedakan sampai batas mana kemampuan manusia. Karena itulah, saat berhadapan
dengan fenomena didepannya mereka melihat itu diluar batas kemampuan manusia
dan tidak ada kemungkinan lain kecuali perilaku tuhan yang maha sakti. Maka,
mereka pun mempersaksikan kebesaran Allah Tuhan sekalian alam melalui ilmunya.
Demikian halnya dengan kita saat ini. Terbuka kemungkinan
bagi kita untuk yang belum mengenal dirikita sendiri, untuk melihat batas
antara perilaku alam yang bisa mandiri mengola dirinya sendiri atau sebenarnya
ada programmer yang membangun sistem operasi berjalannya alam semesta ini.
Dari paparan diatas saya persingkat bagaimana para penyihir
firaun, yang mulai mengenal dirinya sendiri, dengan menyaksikan bahwa tidak ada
daya kekuatan yang sanggup melakukan itu semua kecuali memang keagunggan Tuhan
Nabi Musa, dari situlah para penyihir
fir’aun mulai mengenal Allah.
Saya mau kasih tahu ilmu fikih tidak mengatakan pada
ketuhanan, itu hanya berdalil karena orang ahli hukum. Buktinya mereka berbeda
pendapat walau kalimatnya sama, imam sini bilangnya boleh, yang imam satunya bilangnya
tidak boleh, yang imam sana lagi bilangnya boleh. Loh yang bener mana.
Nah kalau orang sudah mengenal tuhan, kan bisa tanya sama
Allah, terus apakah kita bisa bertanya kepada Allah?. Kalau tidak bisa ya tanya
Nabi, tetapi mereka sendiri hanya menanya beberapa kata saja, hingga sampai
sekarang tidak ada namanya tafsir Nabi, ngak ada kan??.Nabi tidak pernah
menafsirkan Alquran, tapi menyampaikan apa adanya, sehingga disitulah muncul
berbeda pendapat, dan jangan dijadikan landasan bahwa tafsir yang ada sekarang
itu sebuah kebenaran. Kalau tafsir itu sebuah kebenaran seharusnya ada satu
tafsir saja, tapi nyatanya banyak sekarang kitab-kitab tafsir para mufasir, hal
itu dikarenakan berbeda pendapat , dan metode yang dilakukan berbeda maka
menghasilkan tafsir yang berbeda pula.
Jadi nanti ujungnya siapa orang yang paling mengerti
tentang firman tuhan. Bukan orang ahli Bahasa!. Tapi orang yang sudah kenal
tuhan.
Contoh kalau kita ikut di dalam sebuah pengajian atau
majelis, datang sekali duakali belum faham, tapi kalau sudah sering datang
pasti sudah faham betul.
Dan itu betul silakan kenali dirimu sendri. Dari dimensi
sosiologis saja orang belum kenal diri salah nempatkan. Baru dapat hadis baru
saja yang bersumber dari internet, sudah berani mengatakan itu sebuah ketetapan
yang dijadikan hukum dalam pendiriannya, merasanya sudah menjadi orang pintar,
mengalahi para ahli pakarnya yang belajar setengah mati, kalah dengan fatwa internet yang didapatkannya. Jadi dia
salah tempat, merasa dirinya benar daripada yang lainnya yang lebih faham dari
dirinya. Akhirnya dia membohongi dirinya sendiri, dan apakah orang seperti ini
mengenali dirinya sendiri. Tentu saja tidak, selain dia tidak kenal diri
sendiri, dia juga membohongi diri sendiri ,maka ia akan semakin jauh dalam
proses mengenal tuhannya. Wong mengenal dirinya sendiri saja belum bisa.
Dari perilakunya, perbuatannya, ucapannya, saya bisa
menebak orang seperti itu tahu diri atau tidak. Ternyata banyak orang yang tidak tahu diri. Dirinya
saja tidak tahu apalagi mengenal Allah Swt. Tetapi, orang tahu Allah ya harus
tahu diri dulu gitu aja. Orang tahu diri tidak mesti harus tahu Allah, tapi
orang tahu Allah harus tahu diri dahulu.
Contoh orang ambil program doctor harus S2 dulu kan, jadi
harus tahu. Masa mau ambil program doctor tapi masih S1,ini kan dia tidak tahu
diri kalau dia masih S1, mau ambil
program doktor, berarti dia tidak mengenal dirinya sendiri. S1 saja
belum faham mau ambil program doktor
Jadi ada prosesnya seperti itu, kalau ingin belajar bener
ya salah satunya harus tahu diri, tahu diri ini salah satunya, tidak pernah
merasa benar!!. Kalau orang ,merasa benar maka orang itu tidak tahu diri. Orang
yang selalu merasa benar artinya orang itu sudah tidak benar, sedangkan orang
yang benar itu tidak merasa benar, merasanya salah meluluh. Kalau orang merasa
benar sendiri maka itulah orang yang tidak benar sendiri, karena dia berpotensi
bertengkar dengan siapapun, ketika berbeda pendapat, ujung-ujungnya menyalahkan
orang lain.
Tunduk ,Ferdy, 15 Mei
2020
x
nice one,
ReplyDeletesaran : bahasanya jangan terlalu panjang , ambil pointnya saja .. bukan apa2 krna bagi kami yg awam agak sulit memahami dr awal .. namun point sudah tersampaikan pada endingnya .. terimakasih ilmunya kak
Terimakasih kak, semoga bisa menjadikan penulis lebih baik lagi
Delete